INDRAMAYU — Kekeringan mulai menjadi ancaman serius bagi petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sekitar 12.900 hektare lahan pertanian dilaporkan terdampak kekeringan, sehingga petani harus menghadapi persoalan ketersediaan air untuk mempertahankan tanaman mereka.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Indramayu merupakan salah satu daerah sentra produksi pangan. Berkurangnya pasokan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman, terutama pada lahan yang bergantung pada irigasi dan sumber air permukaan.
Di sejumlah wilayah, petani harus mencari alternatif sumber air untuk mengurangi dampak kekeringan. Sebagian di antaranya mengandalkan pompa maupun sumber air yang masih tersedia agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air.
Kekeringan juga meningkatkan risiko kerugian apabila kondisi berlangsung dalam waktu lama. Tanaman yang kekurangan air berpotensi mengalami penurunan produktivitas, bahkan gagal panen pada kondisi yang lebih parah.
Petani berharap pemerintah dan pihak terkait segera memperkuat langkah penanganan, mulai dari memastikan distribusi air irigasi, penyediaan pompa, hingga bantuan sarana produksi bagi petani yang terdampak.
Penanganan kekeringan dinilai penting bukan hanya untuk melindungi pendapatan petani, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksi pangan dan ketahanan pangan daerah.
Dengan luas lahan terdampak mencapai sekitar 12.900 hektare, kondisi ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan sumber daya air dan mitigasi kekeringan perlu dilakukan secara cepat, terukur, dan berkelanjutan.
Hum/red
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!