Kamis, 01 Oktober 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

Nestapa Petani Indramayu, 12.900 Hektare Lahan Terdampak Kekeringan

Redaksi Redaksi • 13 Aug 2026 • 19 • 0 • 3 menit
Nestapa Petani Indramayu, 12.900 Hektare Lahan Terdampak Kekeringan

INDRAMAYU — Kekeringan mulai menjadi ancaman serius bagi petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sekitar 12.900 hektare lahan pertanian dilaporkan terdampak kekeringan, sehingga petani harus menghadapi persoalan ketersediaan air untuk mempertahankan tanaman mereka.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Indramayu merupakan salah satu daerah sentra produksi pangan. Berkurangnya pasokan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman, terutama pada lahan yang bergantung pada irigasi dan sumber air permukaan.

Di sejumlah wilayah, petani harus mencari alternatif sumber air untuk mengurangi dampak kekeringan. Sebagian di antaranya mengandalkan pompa maupun sumber air yang masih tersedia agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air.

Kekeringan juga meningkatkan risiko kerugian apabila kondisi berlangsung dalam waktu lama. Tanaman yang kekurangan air berpotensi mengalami penurunan produktivitas, bahkan gagal panen pada kondisi yang lebih parah.

Petani berharap pemerintah dan pihak terkait segera memperkuat langkah penanganan, mulai dari memastikan distribusi air irigasi, penyediaan pompa, hingga bantuan sarana produksi bagi petani yang terdampak.

Penanganan kekeringan dinilai penting bukan hanya untuk melindungi pendapatan petani, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksi pangan dan ketahanan pangan daerah.

Dengan luas lahan terdampak mencapai sekitar 12.900 hektare, kondisi ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan sumber daya air dan mitigasi kekeringan perlu dilakukan secara cepat, terukur, dan berkelanjutan.

Hum/red

Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!