JAKARTA, Agrinews.com— Dua survei terbaru menunjukkan persepsi publik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memiliki satu suara. Median menemukan MBG sebagai program pemerintah yang paling disukai, sementara Poltracking justru mencatat tingkat ketidakpuasan lebih tinggi.
Survei Median terhadap 1.212 responden pada 21 Juli–2 Agustus 2026 menempatkan MBG sebagai program yang paling disukai dengan angka 38,4 persen. Sebanyak 36,1 persen responden menginginkan program dilanjutkan, sedangkan 34,2 persen meminta perbaikan sebelum dilanjutkan.
Namun, survei Poltracking terhadap 1.220 responden pada 14–20 Agustus 2026 memberikan gambaran berbeda. Sebanyak 49,2 persen responden mengaku tidak puas terhadap MBG, berbanding 46,4 persen yang menyatakan puas. Untuk keberlanjutan program, 44,6 persen menginginkan MBG dihentikan dan 42,1 persen meminta tetap dilanjutkan.
Perbedaan itu tidak otomatis menunjukkan salah satu survei keliru. Pakar Ilmu Pemerintahan Universitas Islam Riau, Agung Wicaksono, menilai waktu survei, desain pertanyaan, karakteristik responden, serta konteks pengambilan data dapat memengaruhi hasil.
Ada satu pesan yang justru sama-sama penting dari kedua survei tersebut: MBG masih memiliki dukungan, tetapi pelaksanaannya menghadapi tuntutan perbaikan.
Persoalan kualitas rasa dan gizi, kecocokan menu, hingga kasus keracunan menjadi faktor yang disebut dalam survei Poltracking sebagai alasan sebagian responden menolak keberlanjutan program.
Karena itu, pemerintah sebaiknya tidak menjadikan angka popularitas sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Evaluasi harus diarahkan pada kualitas makanan, keamanan pangan, ketepatan sasaran, tata kelola dapur, serta konsistensi manfaat yang diterima masyarakat.
MBG mungkin belum kehilangan dukungan publik. Namun, dukungan itu bukan cek kosong. Pemerintah tetap dituntut membuktikan bahwa program besar tersebut benar-benar menghadirkan makanan bergizi, aman, dan layak bagi penerima manfaat.
Sumber: FxPro
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!