Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan

Redaksi Redaksi • 02 Sep 2026 • 62 • 0 • 3 menit
Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan

JAKARTA, Agrinews.com— Dua survei terbaru menunjukkan persepsi publik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memiliki satu suara. Median menemukan MBG sebagai program pemerintah yang paling disukai, sementara Poltracking justru mencatat tingkat ketidakpuasan lebih tinggi.

Survei Median terhadap 1.212 responden pada 21 Juli–2 Agustus 2026 menempatkan MBG sebagai program yang paling disukai dengan angka 38,4 persen. Sebanyak 36,1 persen responden menginginkan program dilanjutkan, sedangkan 34,2 persen meminta perbaikan sebelum dilanjutkan.

Namun, survei Poltracking terhadap 1.220 responden pada 14–20 Agustus 2026 memberikan gambaran berbeda. Sebanyak 49,2 persen responden mengaku tidak puas terhadap MBG, berbanding 46,4 persen yang menyatakan puas. Untuk keberlanjutan program, 44,6 persen menginginkan MBG dihentikan dan 42,1 persen meminta tetap dilanjutkan.

Perbedaan itu tidak otomatis menunjukkan salah satu survei keliru. Pakar Ilmu Pemerintahan Universitas Islam Riau, Agung Wicaksono, menilai waktu survei, desain pertanyaan, karakteristik responden, serta konteks pengambilan data dapat memengaruhi hasil.

Ada satu pesan yang justru sama-sama penting dari kedua survei tersebut: MBG masih memiliki dukungan, tetapi pelaksanaannya menghadapi tuntutan perbaikan.

Persoalan kualitas rasa dan gizi, kecocokan menu, hingga kasus keracunan menjadi faktor yang disebut dalam survei Poltracking sebagai alasan sebagian responden menolak keberlanjutan program.

Karena itu, pemerintah sebaiknya tidak menjadikan angka popularitas sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Evaluasi harus diarahkan pada kualitas makanan, keamanan pangan, ketepatan sasaran, tata kelola dapur, serta konsistensi manfaat yang diterima masyarakat.

MBG mungkin belum kehilangan dukungan publik. Namun, dukungan itu bukan cek kosong. Pemerintah tetap dituntut membuktikan bahwa program besar tersebut benar-benar menghadirkan makanan bergizi, aman, dan layak bagi penerima manfaat.

Sumber: FxPro 

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!