Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

Sungai Cikeruh Mengering, Petani Bandung Hadapi Ancaman Gagal Panen

Redaksi AIN Redaksi AIN • 04 Aug 2026 • 18 • 0 • 3 menit
Sungai Cikeruh Mengering, Petani Bandung Hadapi Ancaman Gagal Panen
Bandung – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai membawa dampak serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Bandung. Debit air Sungai Cikeruh yang selama ini menjadi sumber utama irigasi menyusut drastis hingga nyaris mengering, mengakibatkan ratusan hektare lahan sawah di Kecamatan Cileunyi dan Rancaekek terancam mengalami gagal panen. Kondisi tersebut memaksa petani mengeluarkan biaya tambahan untuk menyelamatkan tanaman padi. Mereka harus menyedot air menggunakan pompa dari sumber yang berjarak hingga sekitar 1,5 kilometer, dengan biaya sewa pompa mencapai Rp35 ribu per jam. Sebagian petani bahkan telah menghabiskan ratusan jam pemompaan demi mempertahankan tanaman agar tetap hidup. Di sejumlah lokasi, tanah sawah mulai retak dan tanaman padi menunjukkan gejala kekeringan. Daun berubah kemerahan sebelum akhirnya mengering dan mati, menandakan ancaman puso atau gagal panen semakin nyata. Beberapa petani memilih mengalihkan lahannya untuk menanam komoditas palawija yang lebih tahan terhadap kondisi minim air. Selain kehilangan hasil panen, petani juga menghadapi kerugian akibat biaya produksi yang telah dikeluarkan, mulai dari pembelian benih, pengolahan lahan, penanaman, hingga pemupukan. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan apabila kekeringan terus berlangsung tanpa adanya pasokan air yang memadai. Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan segera memperkuat langkah mitigasi melalui optimalisasi sumber air, pompanisasi, serta pengelolaan irigasi agar dampak kekeringan tidak semakin meluas dan produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah puncak musim kemarau.
Redaksi AIN
Penulis

Redaksi AIN

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!