Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

PERTANIAN

Yogyakarta-Bengkulu Bertukar Pengalaman, Dari Pengembangan Wisata hingga Penataan Infrastruktur Digital

Redaksi Redaksi • 24 Aug 2026 • 11 • 0 • 3 menit
Yogyakarta-Bengkulu Bertukar Pengalaman, Dari Pengembangan Wisata hingga Penataan Infrastruktur Digital

YOGYAKARTA,– Pemerintah Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Bengkulu memperkuat peluang kolaborasi dalam pengembangan perkotaan melalui kunjungan kerja Pemkot Bengkulu ke Balai Kota Yogyakarta, Senin (24/8/2026).

Kunjungan yang berlangsung di Ruang Nakula, Balai Kota Yogyakarta, tersebut tidak hanya menjadi momentum silaturahmi, tetapi juga forum pertukaran pengalaman terkait pengelolaan kota. Pembahasannya mencakup penguatan sektor wisata dan budaya, ruang publik, desain industri, hingga penataan infrastruktur digital.

Wakil Wali Kota Bengkulu Ronny Pebriyanto L. Tobing mengatakan, Yogyakarta dinilai memiliki berbagai pengalaman yang relevan untuk dipelajari Bengkulu, terutama dalam mengembangkan potensi sejarah, budaya, religi, dan pariwisata.

"Ya, dalam rangka ini pertama silaturahmi. Kemudian memang diskusi tentang kemajuan-kemajuan yang ada di Jogja. Ini adalah tempat yang memang wajib untuk dicontoh," ujarnya.

Menurut Ronny, Bengkulu dan Yogyakarta memiliki sejumlah kesamaan karakter, terutama dari sisi keberadaan peninggalan sejarah, budaya, serta potensi pariwisata. Kesamaan tersebut menjadi salah satu alasan Pemkot Bengkulu menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu daerah rujukan dalam pengembangan kota.

Salah satu contoh yang disebut Ronny adalah pengembangan kawasan yang menjadi ruang aktivitas masyarakat sekaligus destinasi wisata. Konsep tersebut kemudian diadaptasi di Kota Bengkulu melalui kawasan Belungguk Poin.

"Sekarang kami sudah membikin salah satu contoh di Jogja. Kalau di Jogja itu ada Jalan Malioboro, kalau di Kota Bengkulu ada namanya Belungguk Poin. Nah, ini yang menjadi tempat kami belajar pada waktu di Jogja dan kami jalankan di Kota Bengkulu," jelasnya.

Pengalaman Yogyakarta menunjukkan bahwa pengembangan kawasan wisata tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik destinasi. Penataan ruang publik, infrastruktur, desain kawasan, hingga kenyamanan masyarakat dan wisatawan juga menjadi bagian penting dalam membentuk wajah kota.

Dari sisi Yogyakarta, kunjungan tersebut dinilai membuka ruang kerja sama yang lebih luas antara kedua pemerintah daerah.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menyebut salah satu peluang kolaborasi yang dibahas adalah bidang desain industri melalui Pusat Desain Industri Nasional (PDIN).

"Jadi Jogja kan punya PDIN. Nah, diharapkan kita bisa ada sinergi, kolaborasi dengan Bengkulu, yang mana di sana juga kotanya hampir sama persis. Jadi di sana juga kota wisata dan juga banyak tempat-tempat sejarah ataupun budaya yang persis kota," katanya.

Menurut Wawan, penguatan desain industri dapat mendukung pengembangan potensi daerah, khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pengalaman Yogyakarta di bidang desain diharapkan dapat menjadi referensi bagi Bengkulu untuk mengembangkan produk dan potensi lokal sesuai karakter daerahnya.

Selain wisata, budaya, dan desain industri, pembahasan juga menyentuh persoalan infrastruktur digital perkotaan. Pemkot Bengkulu mempelajari penerapan sistem ducting yang telah dikembangkan di Kota Yogyakarta.

Melalui sistem tersebut, kabel fiber optik dan jaringan utilitas yang sebelumnya berada di ruang udara secara bertahap ditata melalui jalur bawah tanah. Penataan ini menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang kota yang lebih tertib sekaligus menyiapkan infrastruktur yang mendukung kebutuhan digital masyarakat.

"Jadi yang sudah dilakukan di Kota Yogyakarta yang mana kabel-kabel fiber atau itu sudah dipindah semuanya pakai bawah tanah. Nah, ini yang harapannya Bengkulu juga akan sama dilakukannya, program ducting," ungkap Wawan.

Pertukaran pengalaman antara Yogyakarta dan Bengkulu memperlihatkan bahwa pembangunan kota membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Pengembangan destinasi wisata dan ruang publik perlu berjalan bersama dengan penguatan budaya, ekonomi kreatif, desain industri, serta infrastruktur pendukung.

Bagi kedua daerah, kerja sama semacam ini juga menjadi ruang untuk saling belajar dan menyesuaikan praktik yang telah diterapkan dengan karakteristik masing-masing kota. Dengan demikian, pengalaman antardaerah tidak sekadar menjadi rujukan, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

ya/gk

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!