PURWOKERTO — Potensi olahan lidah buaya di Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, mendapat perhatian melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi. Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Purwokerto berhasil memperoleh pendanaan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) melalui program BIMA Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program tersebut mengusung proposal “Pemberdayaan UMKM Lidah Buaya Desa Karanggintung melalui Digitalisasi Tata Kelola Usaha dan Perluasan Pasar Menggunakan Platform Si VERA.” Tim dosen yang diketuai Saghifa Fitriana berfokus membantu pelaku UMKM memperbaiki tata kelola usaha sekaligus memperluas jangkauan pemasaran melalui teknologi digital.
Desa Karanggintung dinilai memiliki potensi produk olahan lidah buaya yang dapat dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan masyarakat. Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam administrasi usaha dan pemasaran.
Melalui program ini, teknologi tidak ditempatkan sekadar sebagai perangkat tambahan, tetapi diarahkan menjadi bagian dari aktivitas usaha sehari-hari. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Si VERA, sebuah platform yang dirancang untuk membantu tata kelola informasi usaha sekaligus mendukung promosi produk UMKM.
Ketua tim, Saghifa Fitriana, menilai digitalisasi harus memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada pengenalan platform, tetapi dilanjutkan dengan pelatihan, implementasi sistem, pendampingan, serta evaluasi sepanjang 2026.
“Kami tidak ingin kegiatan berhenti pada pelatihan. Mitra akan mendapatkan pendampingan dalam penerapan sistem sehingga mereka dapat mencoba, mengevaluasi, dan membiasakan penggunaan teknologi dalam pengelolaan usaha,” ujar Saghifa.
Perluasan Pasar Jadi Fokus Utama
Penguatan pemasaran menjadi salah satu sasaran penting program tersebut. Produk olahan lidah buaya dari Karanggintung diharapkan tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi mampu menjangkau konsumen yang lebih luas melalui kanal digital.
Dengan tata kelola usaha yang lebih tertib dan pemanfaatan platform digital, pelaku UMKM diharapkan memiliki kemampuan lebih baik dalam mengelola informasi produk, mengenalkan produk kepada konsumen, serta membuka peluang pasar baru.
Program ini juga menjadi bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di lingkungan kampus diarahkan agar dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Sebelumnya, UBSI Kampus Purwokerto juga telah mengumumkan keberhasilan tim dosen dan mahasiswa memperoleh hibah pengabdian masyarakat 2026 untuk program digitalisasi UMKM lidah buaya Karanggintung melalui Si VERA.
Dari Potensi Lokal Menuju Pasar Lebih Luas
Keberadaan UMKM lidah buaya di Karanggintung menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa dapat tumbuh dari komoditas lokal apabila didukung inovasi, tata kelola, dan strategi pemasaran yang tepat.
Melalui hibah BIMA 2026, UBSI berupaya menjembatani potensi tersebut dengan teknologi. Harapannya, pelaku UMKM tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga semakin mandiri dalam mengelola usaha dan membangun pasar.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju ekosistem UMKM desa yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Jika pendampingan berjalan berkelanjutan, produk olahan lidah buaya Karanggintung berpeluang berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi lokal Banyumas yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Tags: UBSI, Hibah BIMA 2026, UMKM, Lidah Buaya, Karanggintung, Banyumas, Digitalisasi UMKM, Si VERA, Kemdiktisaintek, PKM, Ekonomi Desa.
Gus/Han/red
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!