LOMBOK TENGAH — Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), bukan sekadar permukiman masyarakat Suku Sasak. Kampung adat ini telah lama menjadi salah satu ruang penting untuk melihat bagaimana tradisi, arsitektur, kerajinan, dan kehidupan masyarakat lokal dipertahankan sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya.
Namun, wajah Desa Sade kini berubah setelah kebakaran besar melanda kawasan tersebut pada Sabtu (22/8/2026) malam. Peristiwa itu dilaporkan menghanguskan sekitar 150 rumah, termasuk 89 rumah adat Sasak, serta berdampak terhadap lebih dari 300 warga.
Tidak hanya bangunan tempat tinggal, kebakaran juga mengancam warisan budaya yang selama ini dijaga masyarakat. Sejumlah naskah Lontar Rengganis dilaporkan ikut terbakar. Sebagian masih berhasil diselamatkan, sementara lainnya mengalami kerusakan.
Jejak Panjang Budaya Sasak
Desa Sade dikenal sebagai salah satu kampung adat tua di Lombok. Kampung ini diperkirakan telah berkembang sejak sekitar abad ke-14 hingga ke-16 dan mampu mempertahankan berbagai unsur kehidupan tradisional masyarakat Sasak selama ratusan tahun.
Dengan luas sekitar 5,5 hektare, kawasan tersebut sebelumnya dihuni sekitar 700 penduduk. Rumah-rumah tradisional menjadi salah satu identitas utama Sade, dengan penggunaan material seperti bambu, kayu, bedek, serta atap ilalang.
Keunikan arsitektur tersebut selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pengalaman wisatawan yang berkunjung ke Lombok.
Tenun dan Tradisi Menjadi Identitas Wisata
Selain rumah adat, Desa Sade dikenal melalui tradisi menenun yang dilakukan masyarakat, khususnya kaum perempuan.
Kain tenun tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mempunyai posisi penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sasak. Kemampuan menenun menjadi salah satu bagian dari proses menuju kedewasaan bagi perempuan di kampung tersebut.
Tradisi lain yang dikenal dari masyarakat Sasak adalah merariq, yakni tradisi perkawinan yang dalam praktiknya melibatkan proses membawa calon pengantin perempuan dari rumahnya oleh pihak laki-laki. Tradisi tersebut memiliki konteks budaya tersendiri, meski dalam perkembangannya juga memunculkan perdebatan ketika dipraktikkan atau dipahami secara keliru.
Desa Adat yang Berkembang Menjadi Destinasi Wisata
Nilai budaya, arsitektur tradisional, kerajinan tenun, dan kehidupan masyarakat menjadi modal utama Sade berkembang sebagai desa wisata budaya.
Sejak 1982, kawasan ini ditetapkan sebagai desa wisata budaya. Status tersebut membuat Desa Sade semakin dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin melihat langsung kehidupan masyarakat Sasak dan warisan tradisional Lombok.
Bagi sektor pariwisata Lombok, Sade memiliki posisi penting karena menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari destinasi berbasis alam. Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal sejarah, rumah tradisional, kerajinan, dan tradisi masyarakat.
Tantangan Pelestarian Setelah Kebakaran
Kebakaran besar tersebut menjadi pukulan serius bagi keberlangsungan Desa Sade sebagai kawasan budaya dan wisata.
Kerusakan puluhan rumah adat dan hilangnya sebagian benda warisan budaya menunjukkan bahwa pelestarian kampung adat tidak hanya menyangkut bangunan fisik. Dokumentasi budaya, penyelamatan benda bersejarah, serta penguatan sistem mitigasi bencana juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat.
Pemulihan Desa Sade karena itu bukan semata membangun kembali rumah yang terbakar. Rekonstruksi perlu mempertimbangkan karakter arsitektur tradisional, keberlanjutan kehidupan masyarakat adat, sekaligus keberlangsungan aktivitas wisata budaya.
Desa Sade telah menjadi bagian dari wajah pariwisata Lombok selama puluhan tahun. Setelah kebakaran, tantangan berikutnya adalah bagaimana masyarakat bersama pemerintah dan berbagai pihak dapat memulihkan kawasan tersebut tanpa kehilangan karakter budaya Sasak yang menjadi alasan utama Sade dikenal hingga mancanegara.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!