RIAU — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek domino terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Sektor pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perdagangan hingga jasa transportasi menjadi bagian yang turut menghadapi risiko ketika kabut asap mengganggu mobilitas dan aktivitas warga.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, BRIN, dan Kementerian Lingkungan Hidup, luas karhutla di Riau sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai sekitar 15.477,9 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 14.277,3 hektare berada di kawasan gambut.
Angka itu meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sekitar 907,8 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan lintas sektor.
Dampak karhutla tidak berhenti pada kawasan yang terbakar. Ketika kualitas udara memburuk dan jarak pandang terganggu, aktivitas masyarakat dapat ikut menurun. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kunjungan wisatawan, kegiatan luar ruang, serta mobilitas masyarakat dan barang.
Pariwisata Berpotensi Tertekan
Sektor pariwisata menjadi salah satu bidang yang rentan terdampak. Kabut asap dan kualitas udara yang buruk dapat mengurangi minat wisatawan untuk melakukan perjalanan, khususnya ke destinasi yang mengandalkan aktivitas luar ruangan.
Penurunan kunjungan wisatawan kemudian dapat berimbas kepada mata rantai ekonomi di sekitar destinasi. Pelaku usaha penginapan, restoran, pedagang makanan, penyedia transportasi, pemandu wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif berpotensi mengalami penurunan pendapatan.
Padahal, berbagai kegiatan wisata di Riau selama ini mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Event budaya dan olahraga, misalnya, dapat memberikan dampak berantai terhadap sektor akomodasi, kuliner, transportasi dan UMKM.
UMKM Ikut Menghadapi Risiko
Pelaku UMKM juga tidak terlepas dari dampak karhutla. Ketika mobilitas masyarakat menurun, transaksi di pusat perdagangan maupun kawasan wisata dapat ikut melemah.
Bagi pelaku usaha kecil yang mengandalkan penjualan harian, kondisi tersebut dapat menjadi tekanan tersendiri. Pedagang kuliner, produk kerajinan, oleh-oleh, jasa transportasi dan usaha berbasis kunjungan wisata merupakan beberapa sektor yang sangat bergantung pada aktivitas masyarakat.
Efek domino tersebut dapat semakin besar apabila karhutla berlangsung dalam waktu panjang. Penurunan aktivitas ekonomi masyarakat dapat berpengaruh terhadap pendapatan, daya beli dan perputaran uang di tingkat lokal.
Ancaman terhadap Ekonomi Lokal
Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan lahan terbakar. Ketika bencana mengganggu aktivitas masyarakat secara luas, dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor ekonomi.
Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan karhutla perlu dilakukan secara terpadu. Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, kelompok tani, pemilik lahan serta berbagai pemangku kepentingan memiliki peran penting dalam mencegah kebakaran sejak dini.
Penguatan patroli, deteksi dini, pengelolaan lahan tanpa bakar, pembasahan kawasan gambut serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla.
Penanganan yang cepat tidak hanya dibutuhkan untuk melindungi hutan dan lingkungan, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah.
Bagi Riau, menjaga hutan dan lahan dari kebakaran berarti sekaligus menjaga ruang hidup masyarakat, destinasi wisata, keberlangsungan UMKM serta roda ekonomi lokal agar tetap bergerak.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!