Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

Panas Ekstrem Mengubah Ritme Pertanian Jepang, Petani Beralih Bekerja pada Malam Hari

Redaksi Redaksi • 23 Aug 2026 • 68 • 0 • 3 menit
Panas Ekstrem Mengubah Ritme Pertanian Jepang, Petani Beralih Bekerja pada Malam Hari

TOKYO — Gelombang panas ekstrem mulai mengubah pola kerja petani di Jepang. Suhu siang yang semakin tinggi dan risiko sengatan panas membuat sebagian petani menggeser aktivitas pertanian ke sore, malam, hingga dini hari.

Perubahan tersebut bukan sekadar pilihan untuk mengejar kenyamanan, tetapi menjadi strategi keselamatan agar kegiatan produksi tetap berjalan di tengah kondisi cuaca yang semakin berat. Reuters melaporkan sejumlah petani Jepang kini bekerja setelah matahari terbenam atau sebelum pagi karena suhu siang hari dinilai terlalu berbahaya.

Salah satu contohnya terlihat pada petani bunga Motoaki Iijima di Nikko, Prefektur Tochigi. Ia mengubah pola kerja setelah seorang pekerja mengalami sengatan panas ketika bekerja di rumah kaca. Saat suhu di luar mencapai lebih dari 35 derajat Celsius, temperatur di dalam rumah kaca dapat melampaui 40 derajat Celsius.

Kini, aktivitas panen dan pekerjaan di lahan dilakukan pada malam hari dan dihentikan ketika matahari pagi mulai membuat kondisi kembali terlalu panas. Perubahan jadwal tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi pekerja sekaligus mempertahankan produksi.

Petani Lansia Lebih Rentan

Ancaman panas menjadi persoalan serius karena sekitar 70 persen petani Jepang berusia 65 tahun atau lebih. Kelompok usia tersebut memiliki risiko lebih tinggi menghadapi tekanan panas, terlebih ketika suhu tinggi disertai kelembapan.

Data yang dikutip Reuters menunjukkan, sebanyak 59 pekerja sektor pertanian meninggal akibat paparan panas pada 2024. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021.

Perubahan jam kerja juga terjadi pada peternakan. Peternak unggas Tetsuya Usuba, misalnya, mengatur waktu pemberian pakan ribuan ayam pada dini hari agar ternak dapat makan sebelum suhu meningkat. Langkah tersebut dilakukan karena panas dapat menekan nafsu makan sekaligus meningkatkan risiko kematian pada unggas.

Adaptasi Baru Pertanian Jepang

Fenomena petani bekerja pada malam hari menunjukkan bagaimana perubahan iklim mulai memengaruhi rutinitas dasar produksi pangan. Aktivitas yang selama puluhan tahun dilakukan pada siang hari kini harus disesuaikan dengan kondisi suhu.

Bagi petani Jepang, perubahan jadwal menjadi salah satu bentuk adaptasi paling langsung terhadap panas ekstrem. Namun, strategi tersebut juga membawa konsekuensi berupa kebutuhan penerangan, perubahan pola istirahat, tambahan tenaga kerja, serta penyesuaian pengelolaan tanaman dan ternak.

Kondisi Jepang menjadi gambaran bahwa pertanian tidak hanya menghadapi persoalan ketersediaan air, perubahan musim, dan gangguan hama. Panas ekstrem kini juga memaksa manusia mengubah waktu bekerja demi mempertahankan keberlangsungan produksi pangan.

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!