Jumat, 02 Oktober 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

PERTANIAN

Siapa yang Masih Peduli pada Nasib Tukang Becak?

Redaksi Redaksi • 28 Aug 2026 • 34 • 0 • 3 menit
Siapa yang Masih Peduli pada Nasib Tukang Becak?

JAKARTA — Di tengah laju pembangunan kota, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan teknologi transportasi, masih ada kelompok pekerja yang bertahan dengan cara paling sederhana: mengayuh becak demi menyambung hidup.

Tukang becak bukan sekadar bagian dari pemandangan jalanan. Di balik kayuhan pedal mereka terdapat cerita tentang keluarga, kebutuhan pangan, biaya pendidikan anak, hingga perjuangan menghadapi usia yang semakin menua.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang benar-benar memperhatikan nasib mereka?

Pendapatan yang tidak menentu menjadi persoalan utama. Ketika jumlah penumpang berkurang, harga kebutuhan pokok tetap naik. Mereka tidak memiliki kepastian penghasilan seperti pekerja formal, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Di tengah dorongan menuju transportasi modern dan ekonomi digital, keberadaan tukang becak kerap dipandang sebagai bagian dari masa lalu. Padahal, mereka adalah pekerja yang turut menghidupkan ekonomi masyarakat di tingkat paling bawah.

Persoalannya bukan sekadar mempertahankan becak sebagai alat transportasi, tetapi bagaimana negara, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat memastikan para pengemudinya tetap memiliki martabat, perlindungan sosial, dan kesempatan meningkatkan kesejahteraan.

Bantuan sesaat memang dapat meringankan beban. Namun, kebijakan yang lebih penting adalah menciptakan perlindungan berkelanjutan—akses jaminan sosial, layanan kesehatan, pelatihan usaha, hingga peluang memperoleh penghasilan alternatif bagi mereka yang sudah tidak lagi kuat mengayuh.

Kemajuan sebuah kota seharusnya tidak hanya diukur dari gedung tinggi, jalan yang mulus, atau investasi yang masuk. Kemajuan juga harus terlihat dari bagaimana kota memperlakukan warganya yang paling rentan.

Karena di balik satu becak yang melintas, ada seorang manusia yang sedang bekerja untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah tukang becak masih dibutuhkan, tetapi apakah kita masih peduli pada manusia yang setiap hari mengayuh untuk bertahan hidup.

Ja/,tr

— Iklan — Menteri Pertanian
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!