Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI BUSINESS

Suadesa Festival 2026, PGN Dorong UMKM Desa Naik Kelas Lewat Pemberdayaan dan Energi CNG

Redaksi Redaksi • 24 Aug 2026 • 16 • 0 • 3 menit
Suadesa Festival 2026, PGN Dorong UMKM Desa Naik Kelas Lewat Pemberdayaan dan Energi CNG

SLEMAN,— PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, membawa agenda pemberdayaan masyarakat dan pengembangan bisnis energi dalam Suadesa Festival 2026. Festival yang digelar di Kawasan Kuliner Tiyasan, Gandok Tambakan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 22–23 Agustus 2026 itu diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan UMKM desa.

Mengusung tema “Semangat Kemerdekaan untuk UMKM Desa yang Mandiri, Adil & Makmur”, kegiatan tersebut memadukan potensi kuliner, ekonomi kreatif, desa wisata, seni budaya, serta edukasi energi.

Tak hanya menjadi ruang promosi produk lokal, PGN juga memperkenalkan Compressed Natural Gas (CNG) Cylinder atau Gaslink sebagai salah satu alternatif energi bagi pelaku UMKM dan sektor komersial, khususnya hotel, restoran, dan kafe (Horeka) yang belum terjangkau jaringan gas bumi melalui pipa.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga pada pengenalan pilihan energi yang dapat mendukung kegiatan operasional pelaku usaha.

Lurah Sinduharjo Sudarja mengatakan masyarakat Gandok Tambakan memiliki beragam potensi ekonomi dan kreativitas yang masih dapat terus dikembangkan.

“Suadesa Festival 2026 memberi ruang bagi berbagai potensi yang dimiliki masyarakat untuk lebih dikenal dan bertemu dengan lebih banyak orang. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan keterlibatan warga sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan usaha dan kemandirian ekonomi masyarakat,” ujar Sudarja.

Suadesa Festival 2026 menghadirkan empat program utama, yakni Pasar UMKM Suadesa, Panggung Rakyat Suadesa, Workshop Suadesa, dan Suadesa Peduli.

Keempat program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan penguatan ekonomi masyarakat, peningkatan kapasitas, seni budaya, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Sedikitnya 40 pelaku UMKM yang berasal dari masyarakat setempat dan UMKM binaan PGN turut dilibatkan. Sementara itu, sekitar 75 pelaku seni dari masyarakat lokal dan berbagai komunitas ikut meramaikan rangkaian kegiatan.

Dari sisi seni dan hiburan, Panggung Suadesa menampilkan Kirab Bregodho, Hadroh, Badui, serta sejumlah musisi dan kelompok musik seperti Smarai, Nona Sepatu Kaca, Kampayo, Jogja 90’s, The Rain, dan Jikustik.

Kehadiran pelaku UMKM dan seni lokal tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memperluas eksposur produk serta potensi ekonomi masyarakat Gandok Tambakan.

Division Head Corporate Social Responsibility PT Perusahaan Gas Negara Tbk, Krisdyan Widagdo Adhi, mengatakan Suadesa Festival dirancang untuk menciptakan manfaat bersama melalui pemberdayaan masyarakat sekaligus pengembangan bisnis perusahaan.

“Suadesa Festival 2026 merupakan festival berbasis masyarakat yang mendorong kemandirian dan penguatan ekonomi masyarakat serta UMKM lokal melalui pengembangan potensi kuliner, ekonomi kreatif, dan desa wisata. Di saat yang sama, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan CNG sebagai alternatif energi yang praktis, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujar Krisdyan.

Menurut Krisdyan, Kawasan Kuliner Tiyasan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kawasan ekonomi kuliner. Ekosistem UMKM dan usaha kuliner yang telah terbentuk menjadi modal penting untuk memperkuat kawasan tersebut sebagai destinasi wisata kuliner sekaligus pusat ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Potensi ekonomi lokal itu kemudian menjadi ruang bagi PGN untuk memperkenalkan solusi energi kepada pelaku usaha. Dengan demikian, festival tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diarahkan untuk mempertemukan masyarakat, UMKM, potensi wisata, dan peluang pemanfaatan energi dalam satu ekosistem ekonomi desa.

Bagi PGN, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan gas bumi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui solusi energi yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha yang belum memperoleh akses jaringan gas pipa.

Sn/lm

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!