Jumat, 02 Oktober 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

Teknologi

Lintas Kabupaten Lumajang–Probolinggo Gaungkan Pertanian Organik dan PHT untuk Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

Redaksi Redaksi • 11 Aug 2026 • 14 • 0 • 3 menit
Lintas Kabupaten Lumajang–Probolinggo Gaungkan Pertanian Organik dan PHT untuk Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

LUMAJANG,— Kegiatan lintas kabupaten yang mempertemukan petani dari Lumajang dan Probolinggo menjadi momentum untuk kembali mendorong kesadaran petani terhadap pentingnya menjaga kesehatan tanah dan menerapkan pertanian berkelanjutan.

Kegiatan tersebut mengangkat isu penggunaan pupuk dan input kimia secara berlebihan yang dalam jangka panjang dinilai dapat berdampak terhadap kondisi tanah apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan bahan organik dan penerapan budidaya yang tepat.

Para petani diajak memahami bahwa tanah merupakan aset utama dalam kegiatan pertanian. Karena itu, menjaga keseimbangan dan kesuburan tanah tidak hanya berorientasi pada hasil panen saat ini, tetapi juga harus mempertimbangkan produktivitas lahan untuk generasi berikutnya.

Dalam kegiatan lintas kabupaten tersebut, kesadaran terhadap penggunaan bahan organik kembali menjadi salah satu perhatian. Pemanfaatan bahan organik diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, serta mendukung ekosistem pertanian yang lebih sehat.

Selain penggunaan bahan organik, konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) juga dinilai perlu kembali digaungkan. PHT menekankan pengelolaan organisme pengganggu tanaman dengan mengutamakan keseimbangan ekosistem, pengamatan di lapangan, penggunaan musuh alami, serta penggunaan pestisida secara bijaksana apabila memang diperlukan.

Penerapan PHT bukan berarti menghilangkan seluruh penggunaan sarana produksi kimia, tetapi menempatkannya secara tepat dan berdasarkan kebutuhan agar risiko terhadap lingkungan, tanah, dan organisme non-target dapat ditekan.

Kolaborasi petani antarkabupaten seperti Lumajang dan Probolinggo diharapkan dapat menjadi ruang berbagi pengalaman, pengetahuan, serta praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan. Petani dapat saling belajar mengenai pengelolaan tanah, pemanfaatan bahan organik, pengendalian hama, hingga efisiensi penggunaan sarana produksi.

Kesadaran tersebut menjadi semakin penting di tengah tantangan pertanian yang terus berkembang. Produktivitas memang menjadi target utama, namun keberlanjutan lahan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses produksi pangan.

Melalui gerakan pertanian yang lebih sadar terhadap kesehatan tanah dan penerapan PHT, petani diharapkan tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga mampu menjaga lahan tetap produktif dalam jangka panjang.

Dari Lumajang dan Probolinggo, semangat kolaborasi lintas kabupaten diharapkan menjadi langkah nyata untuk membangun pertanian yang lebih sehat, efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

 

MB/red

Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!