Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi PetaniLalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual PotensiIroni Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi?Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut PerbaikanStudi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di WilayahnyaPertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi PetaniLalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual PotensiIroni Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi?Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut PerbaikanStudi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya
Kementan Gaspol Hilirisasi Pertanian untuk Pengembangan Biofuel dan Bioetanol
Redaksi AIN
• 02 Aug 2026• 21• 0•3 menit
Jakarta, 2 Agustus 2026 – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat langkah hilirisasi sektor pertanian sebagai strategi besar mendukung kemandirian energi nasional. Fokus utama yang kini didorong adalah pengembangan biofuel dan bioetanol berbasis komoditas pertanian dalam negeri yang memiliki nilai tambah tinggi.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Melalui hilirisasi, hasil pertanian tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk energi terbarukan yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam menghasilkan bahan baku bioenergi. Komoditas seperti kelapa sawit, jagung, tebu, dan singkong dinilai mampu menjadi fondasi pengembangan biofuel maupun bioetanol untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor. Program biodiesel berbasis sawit terus diperkuat, sementara pengembangan bioetanol diarahkan melalui skema E20, yaitu campuran etanol dengan bensin yang memanfaatkan bahan baku dari jagung, ubi kayu (singkong), tebu, dan turunannya.
Program ini diharapkan mampu menciptakan pasar baru bagi hasil pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Selain memperkuat ketahanan energi, hilirisasi pertanian juga diproyeksikan mampu mendorong tumbuhnya industri pengolahan di daerah, membuka lapangan kerja baru, meningkatkan investasi sektor agroindustri, serta memperkuat ekonomi pedesaan. Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga langsung menyentuh masyarakat tani.
Para pelaku pertanian berharap kebijakan hilirisasi tersebut diikuti dengan pembangunan infrastruktur industri pengolahan, dukungan teknologi, akses pembiayaan, serta kemitraan yang kuat antara petani, industri, dan pemerintah sehingga Indonesia mampu menjadi salah satu pemain utama energi hijau berbasis pertanian di tingkat dunia.
AIN Agri Indonesia News menilai percepatan hilirisasi menjadi momentum penting bagi transformasi sektor pertanian nasional. Ketika komoditas pertanian mampu menghasilkan pangan sekaligus energi terbarukan, maka nilai tambah yang dinikmati petani akan semakin besar, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan energi Indonesia secara berkelanjutan. (Pul/pr4/
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!